profil

Foto saya
CILACAP, JAWA TENGAH, Indonesia
masih kuliah di jurusan pendidikan oasehidup ~ fakultas ilmu kehidupan ~ universitas negeri yangsemestinya ~ setiap kau adalah guru bagiku

Selasa, 01 Maret 2022

2.1.a.9. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1

Sebagai Pendidik , kita memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama dalam hal belajar yang terbaik sesuai dengan karakteristik mereka. Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang di dalamnya terdapat serangkaian kegiatan yang disusun secara sistematis oleh guru agar mampu mengakomodir seluruh kebutuhan murid yang berbeda di dalam kelas atau lingkungan sekolah. Ciri-ciri atau kerekteristik pembelajaran berdiferensiasi antara lain; lingkungan belajar mengundang murid untuk belajar, kurikulum memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, terdapat penilaian berkelanjutan, guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar murid, dan manajemen kelas efektif.

Adapun tujuan pembelajaran berdiferensiasi bagi setiap murid yaitu pertumbuhan maksimum dari posisi belajar mereka saat ini. Sedangkan tujuan untuk guru yaitu semakin memahami tentang posisi belajar tersebut sehingga pembelajaran sesuai dengan kebutuhan murid, dan guru harus menyadari bahwa ruang kelas harus menjadi tempat dimana guru akan selalu berusaha mengejar pemahaman terbaik mereka tentang pengajaran dan pembelajaran setiap hari, serta untuk mengingat setiap hari bahwa tidak ada praktik yang benar-benar praktik terbaik kecuali apabila itu berhasil untuk setiap murid.

Sebagai guru, tentunya memahami bahwa murid yang diajar di dalam kelas memiliki keberagaman tersendiri karena sejatinya setiap murid memiliki keunikannya masing-masing. Dengan keunikan tersebut, guru sebagai pendidik bertindak sebagai fasilitator dalam memahamkan materi kepada murid dan memfasilitasi agar semua murid mampu memproses ide atau informasi yang diperolehnya serta mampu mengembangkan suatu produk sesuai dengan kemampuan muridnya masing-masing. Untuk itu, pada pembelajaran berdiferensiasi, perlu persiapan atau strategi pembelajaran yang tepat dari guru baik meliputi diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk dengan mengacu pada aspek pemetaan kebutuhan belajar murid.

Dasar pemetaan kebutuhan belajar murid dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi meliputi tiga hal, yaitu:

  1. Kesiapan Belajar Murid

Sebelum mempelajari materi atau topik, guru perlu memetakan kebutuhan murid. Dalam hal ini, guru harus mendiagnosa kesiapan belajar murid. Misalnya, pada diferensiasi konten, ada murid yang sudah siap mempelajari materi yang di dalamnya terdapat masalah berupa tantangan atau kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Ada juga murid yang mungkin masih perlu mempelajari hal-hal yang mendasar dalam memahami materi. Tentunya, perbedaan kognitif dari murid membantu guru untuk mempersiapkan bahan ajar, cara atau strategi yang dapat mengakomodir kebutuhan tersebut dalam pembelajaran. Jumlah bantuan atau dukungan yang diberikan guru kepada murid menyesuaikan dengan tingkat kesiapan belajar murid itu sendiri.

  1. Minat Belajar Murid

Hal lain yang perlu dilakukan sebelum melakukan pembelajaran berdiferensiasi adalah guru perlu memetakan murid berdasarkan minat belajarnya. Sebagai contoh, ada murid yang senang belajar seni, olah raga, sains atau bidang-bidang tertentu. Dalam hal ini, guru harus siap untuk memfasilitasi kebutuhan murid tersebut. Guru dapat memberikan pilihan kepada muridnya untuk belajar sesuai dengan minatnya, misalnya dalam menghasilkan produk. Dalam diferensiasi produk, murid menghasilkan produk sebagai bentuk pencapaian tujuan pembelajaran yang disesuaikan dengan minat belajar murid masing-masing. Murid diberikan kebebasan dalam belajar. Murid bebas menghasilkan produk baik berupa teks atau tulisan seperti artikel, narasi, karangan atau bentuk produk lain yang sesuai minat belajarnya seperti audio, video, poster, mind mapping dan lainnya baik secara individu maupun secara berkelompok selama produk tersebut merujuk pada indikator atau standarisasi minimum penilaian.

  1. Profil Belajar Murid

Pemetaan kebutuhan murid berdasarkan profil belajar murid lebih kepada bagaimana murid belajar sesuai dengan gaya belajarnya yang beragam atau bervariasi. Misalnya pada diferensiasi proses, untuk murid yang memiliki gaya belajar visual maka pada proses pembelajaran guru dapat memberikan materi dengan menggunakan media berupa gambar-gambar, tampilan slide power point, grafik dan sebagainya yang membantu murid dalam belajar dan mengaitkan konsep satu dengan yang lainnya sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Demikian pula, untuk murid yang memiliki gaya belajar auditori maka guru dapat memberikan materi menggunakan atau diiringi dengan musik.

Dengan ketiga dasar pemetaan tersebut, guru akan mampu merancang pembelajaran berdiferensiasi dengan baik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai, yaitu mampu mengakomodir segala perbedaan dari murid, apa yang dibutuhkan oleh murid dalam belajar dan apa yang dapat dilakukan oleh murid terhadap pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya serta bagaimana guru dapat merespon seluruh kebutuhan belajar murid yang berbeda tersebut. Pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti bahwa guru harus melakukan kegiatan yang berbeda dalam membuat perencanaan pembelajaran atau menyusun beberapa perencanaan pembelajaran untuk setiap kali pertemuan. Namun, dalam melakukan praktek pembelajaran berdiferensiasi tentunya harus dilakukan secara efektif dan efisien, mempertimbangkan moda, usaha dan waktu yang digunakan.



Melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi dengan efektif dan efisien juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Sebagai guru, tentu memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan atmosfer lingkungan belajar yang memungkinkan murid untuk berada dalam kondisi jauh dari rasa takut, berani dan tampil percaya diri dalam mengungkapkan ide atau pendapat, senang dalam berkolaborasi, berpartisipasi aktif dalam diskusi, menyukai tantangan atau hal-hal baru sehingga murid mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna. Dalam hal ini, berbagai pendekatan dilakukan oleh guru terhadap konten, proses dan produk dalam pembelajaran berdiferensiasi untuk menumbuhkan motivasi murid agar menjadi pembelajar sepanjang hayat. Demikian pula, umpan balik, evaluasi dan refleksi secara kontinyu juga terus dilakukan agar guru pun menjadi pembelajar sepanjang hayat. Jika pembelajaran berdiferensiasi ini dilakukan dengan efektif dan efisien maka semua murid akan merasa aman dan nyaman dalam belajar serta pemenuhan kebutuhan murid dapat terwujud, tidak akan ada murid yang merasa diistimewakan atau sebaliknya. Implementasi pembelajaran berdiferensiasi ini juga akan memberikan kemudahan bagi guru dalam memetakan dan mengakomodir seluruh kebutuhan murid untuk mempersiapkan mereka dalam menghadapi tantangan dan perubahan zaman yang selalu berubah.

Senin, 14 Februari 2022

1.4.a.10.2 Aksi Nyata - Budaya Positif

Catur Susanto, S.Pd
SMK Migas Muhammadiyah Cilacap
CGP Angkatan 4 - Kabupaten Cilacap 


I. LATAR BELAKANG 

Pendidikan adalah sebuah tuntunan dalam hidup dan tumbuh kembang anak. Setiap anak memiliki kekuatan dirinya sendiri, memiliki pengalaman dan kekayaan. Pendidikan haruslah membimbing dan menguatkan apa yang ada di dalam diri setiap anak agar dapat memperbaiki tingkah lakunya, cara hidupnya dna pertumbuhannya. Dalam proses menuntut, anak diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan potensi bakat dan minatnya sebagai inndividu yang unik. Guru sebagai pamong dapat memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Guru diharapkan memiliki nilai-nilai positif yang dibutuhkan untuk membentuk karakter pelajar Pancasila dengan memberi contoh dan melakukan pembiasaan yang konsisten di sekolah. Pengembangan budaya positif dapat menumbuhkan motivasi instrinsik dalam diri anak untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan berbudi pekerti luhur serta akhlak mulia.  

 

II. RUMUSAN MASALAH 

Adapun rumusan masalah sebagai berikut;

1. Pentingnya menerapkan budaya positif 

2. Mengenal tentang karakter anak didik 

3. Pentingnya kesepakatan dan kontrak di dalam belajar dengan membuat kesepakatan kelas  

 

III. TOLAK UKUR 

Yang menjadi tolak ukur dalam pencapaian aksi nyata budaya positif yaitu;

1. Terbangunnya budaya positif di lingkungan sekolah 

2. Terbangunnya karakter baik pada murid 

3. Terwujudnya merdeka belajar bagi murid 

 

IV. TUJUAN 

Adapun tujuan secara umum dalam upaya membangun budaya positif di sekolah adalah untuk menumbuhkan karakter baik anak dan menciptakan profil pelajar pancasila.

 

V. DUKUNGAN YANG DIBUTUHKAN 

Untuk keterlaksanaan maka dibutuhkan dukungan sbb; 

1. Kolaborasi dari seluruh warga sekolah 

2. Kominten bersama untuk mencapai tujuan 

3. Refleksi untuk mengontrol keterlaksanaan program 

 

VI. HASIL IMPLEMENTASI BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH 

Berikut merupakan hasil dari implementasi budaya positif di SMK Migas Muhammadiyah Cilacap.


Berdoa Sebelum dan Sesudah Pembelajaran
 


Membaca Al-Qur'an sebelum melaksanakan pembelajaran
 

 

 Pembiasaan jadwal adzan Dzuhur



Pembiasaan Sholat Berjamaah dan Dikir
 

 

 

Cek Suhu selama pandemi
 



Pembiasaan Cuci Tangan selama pandemi
 



Pembuatan Keyakinan Kelas
 


Pembiasaan Kelas Bersih
 


Memunculkan jiwa Kepemimpinan Murid
 



Kolaborasi dalam pembelajaran


Apel Pagi
 
 
V. KESIMPULAN
 
Demikianlah serangkaian kegiatan yang dilaksanakan di SMK Migas Muhammadiyah Cilacap dalam rangka mewujudkan budaya positif di lingkungan sekolah. kesimpulan yang dapat diambil yaitu untuk mewujudkan budaya positif di lingkungan sekolah diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak. untuk mendapatkan hasil yang maksimal diperlukan peran aktif dan fungsi kontroling dari seluruh pihak yang terlibat.